Yogyakarta | Harian Indonesia Pos.com — Di tengah berkecamuknya Agresi Militer Belanda II pada akhir tahun 1948, Republik Indonesia yang baru saja berdiri menghadapi ujian terberatnya. Ibu kota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda, para pemimpin pemerintahan ditawan, dan dunia seolah kembali menganggap kemerdekaan Indonesia hanya tinggal nama. Namun di balik kekacauan itu, ada satu sosok yang menolak menyerah: Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Dengan tubuh lemah akibat penyakit paru-paru yang menggerogoti, Sudirman menolak berdiam diri. Di atas tandu sederhana, ia meninggalkan Yogyakarta, memimpin ribuan pasukan TNI menyusuri hutan, pegunungan, dan lembah-lembah di Jawa Tengah. Dari balik pepohonan dan kabut gunung, ia merancang strategi perang yang kelak menjadi legenda: perang gerilya.
Gerilya: Perang Rakyat Melawan Penjajah
Sudirman menyadari betul bahwa pasukannya tak mungkin menang dalam perang terbuka melawan Belanda yang memiliki senjata modern dan logistik melimpah. Karena itu, ia mengubah pola pertempuran menjadi serangan kilat yang datang dan pergi tanpa jejak menyerang pos-pos musuh secara mendadak, lalu menghilang sebelum bala bantuan datang.
Taktik “hit and run” ini membuat pasukan Belanda frustrasi. Mereka menguasai kota-kota besar, tetapi tidak pernah benar-benar menguasai Indonesia. Di pedalaman, hutan, dan pegunungan, semangat kemerdekaan tetap menyala di bawah komando sang Panglima.
Pertahanan Rakyat Semesta
Sudirman tahu, kemenangan tak bisa hanya mengandalkan tentara. Ia membangun sistem pertahanan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, konsep yang kemudian dikenal sebagai Pertahanan Rakyat Semesta.
Rakyat di desa-desa ikut menjadi bagian dari perjuangan: mereka menyediakan makanan, tempat perlindungan, bahkan menjadi mata-mata dan kurir bagi pasukan gerilya. Tentara dan rakyat menyatu dalam satu tekad: mempertahankan kemerdekaan sampai titik darah penghabisan.
“Tanpa rakyat, tentara bukan apa-apa,” demikian prinsip yang selalu dipegang Jenderal Sudirman.
Desentralisasi dan Kemandirian Komando
Dalam kondisi komunikasi yang sering terputus, Sudirman menerapkan sistem komando desentralisasi. Setiap komandan di daerah diberi kebebasan bertindak sesuai situasi lapangan tanpa menunggu perintah langsung dari pusat.
Sistem ini membuat pasukan TNI tetap lincah dan mampu bergerak cepat, meski panglima besarnya sedang berpindah-pindah di hutan. Setiap daerah menjadi benteng perlawanan yang berdiri sendiri, namun tetap berjiwa satu: Republik Indonesia.
Perang di Alam dan di Pikiran
Selain bertarung di medan fisik, Jenderal Sudirman juga berperang di medan psikologis. Ia paham bahwa semangat dan moral adalah senjata yang tak kalah penting dari peluru.
Lewat serangan-serangan mendadak, ia membuat Belanda terus merasa terancam. Sementara itu, kepada rakyat dan pasukan, ia terus menanamkan keyakinan bahwa Indonesia masih berdiri, bahwa perjuangan belum berakhir.
Pesan moralnya jelas: selama ada perlawanan, kemerdekaan tak akan bisa direnggut.
Dari Hutan ke Meja Diplomasi
Perang gerilya yang dipimpin Sudirman bukan sekadar perjuangan militer. Ia juga menjadi bukti bagi dunia bahwa Republik Indonesia masih hidup. Ketika pasukan Belanda kesulitan menaklukkan perlawanan rakyat, tekanan internasional terhadap Den Haag meningkat.
Pada akhirnya, hasil dari perjuangan di medan hutan itu bergema hingga ke meja perundingan internasional — puncaknya dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949, di mana Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia.
Warisan Seorang Panglima
Jenderal Sudirman wafat tak lama setelah kedaulatan Indonesia diakui, pada 29 Januari 1950. Namun strategi dan semangat perjuangannya tetap hidup hingga kini.
Ia meninggalkan warisan berharga: bahwa perang tak selalu dimenangkan oleh kekuatan senjata, tetapi oleh semangat, kecerdikan, dan persatuan antara rakyat dan tentaranya.
Dari hutan-hutan di lereng Lawu hingga dusun-dusun di Banyumas, kisah perjuangan Jenderal Sudirman menjadi simbol abadi keberanian dan cinta tanah air.
Sang Panglima memang telah tiada, tapi strateginya terus menginspirasi generasi bangsa: melawan dengan cerdas, berjuang dengan hati, dan setia pada cita-cita kemerdekaan. (hip)














