MEDAN – Suasana memanas di depan Kantor DPRD Kota Medan. Puluhan massa dari Aliansi Forum Pemerhati Aparatur Negara (FPAN) menggelar aksi demonstrasi yang sarat dengan kritik tajam terhadap kinerja wakil rakyat dan pemerintahan daerah.
Massa menilai DPRD Kota Medan tidak menjalankan fungsi pengawasan sebagaimana mestinya. Dalam orasinya, Ketua FPAN, Reza Nasution, mengecam sikap anggota dewan yang dinilai “menghilang” dan tidak berani menghadapi aspirasi masyarakat.
“DPRD ini dipilih oleh rakyat, tapi ketika rakyat datang menyampaikan aspirasi justru tidak ada satu pun yang berani keluar. Kalau seperti ini, apa gunanya DPRD? Jangan jadi lembaga yang hanya berani di ruang rapat tapi takut pada suara rakyat,” tegas Reza.
Ia bahkan menyebut sikap bungkam tersebut sebagai bentuk “pengecut politik”.
“Kalau tidak berani menjalankan fungsi pengawasan dan takut menggunakan hak interpelasi, lebih baik mundur saja. Jangan jadi wakil rakyat yang hanya diam. DPRD jangan jadi banci politik yang takut pada kekuasaan,” teriaknya disambut sorakan massa.
Desak Gunakan Hak Interpelasi
FPAN secara tegas mendesak DPRD Kota Medan untuk segera memanggil Wali Kota Medan Ricowaas melalui mekanisme Hak Interpelasi. Menurut mereka, selama satu tahun kepemimpinan, banyak kebijakan yang perlu dipertanyakan secara terbuka, mulai dari arah pembangunan hingga transparansi pengelolaan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Selain itu, mereka juga menyoroti:
– Kinerja Birokrasi: Dinilai lambat, kurang koordinasi antar OPD, dan berdampak buruk pada pelayanan publik.
– Kebijakan Daging Non-Halal: Meminta klarifikasi terkait Surat Edaran Nomor 500.7.1/1540 yang dinilai memicu keresahan.
– Target Kepling: Mengecam kebijakan yang membebankan target program pekerja rentan kepada Kepala Lingkungan, dinilai tidak manusiawi dan berpotensi menjadi eksploitasi.
Ketegangan memuncak setelah hampir dua jam berorasi tanpa ada satu pun anggota dewan yang menemui mereka. Merasa diabaikan, sejumlah peserta aksi nekat mencoba melompati pagar gedung DPRD, namun berhasil diredam petugas keamanan.
Ironisnya, di tengah absennya para anggota dewan, sejumlah mobil mewah terlihat terparkir rapi di halaman kantor, yang justru semakin menyulut emosi massa.
“Mobilnya ada, tapi orangnya tidak ada. Ini bukti mereka tidak peduli pada rakyat,” teriak salah satu peserta.
Menutup aksinya, Reza Nasution memberikan peringatan keras. Jika DPRD terus menghindar dan tidak merespons tuntutan, FPAN siap menggelar gelombang aksi yang jauh lebih besar.
“Anggota dewan tidak boleh alergi terhadap kritik. Jika suara rakyat terus diabaikan, kami akan kembali dengan massa yang jauh lebih besar,” pungkasnya.
Aksi ini menjadi sinyal kuat bahwa publik mulai mempertanyakan keberanian dan komitmen DPRD dalam menjalankan fungsi pengawasan.
Laporan : Habib
Editor : MSR








