Berita  

Hadapi Dampak Perubahan Iklim, Gubernur Melki: Pembangunan Listrik NTT Harus Rendah Karbon dan Berkelanjutan

KUPANG | harian indonesia pos.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan komitmen kuat pemerintah provinsi untuk mewujudkan visi “NTT Menuju Nol Emisi Karbon Tahun 2050”. Pernyataan ini disampaikan saat menghadiri pertemuan pembuka penyusunan peta jalan (roadmap) dekarbonisasi sektor kelistrikan yang diselenggarakan oleh Institut Reformasi Layanan Esensial (IESR) di Hotel Aston Kupang, Selasa (30/6/2026).Dalam sambutannya, Gubernur Melki menyoroti bahwa dampak perubahan iklim telah menjadi kenyataan yang tidak dapat dihindari di wilayah NTT. Ia mencatat adanya perpanjangan musim kemarau, ketidakpastian pola hujan, serta peningkatan risiko bencana alam yang mengancam sektor pertanian, perikanan, dan ketahanan pangan masyarakat. Oleh karena itu, seluruh rencana pembangunan ke depan wajib mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dan perlindungan lingkungan hidup.

“Kita menghadapi tantangan ganda: kebutuhan listrik yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, pariwisata, dan industri, namun di sisi lain kita harus menjamin energi tersebut berasal dari sistem yang rendah karbon,” ujar Gubernur Melki.Muhammad Maghribul Falah, Pengelola Program NTT NZE 2025 dari IESR, memaparkan hasil kajian yang menunjukkan potensi luar biasa yang dimiliki NTT. Provinsi ini memiliki potensi tenaga surya mencapai lebih dari 338 GWp dan tenaga angin melebihi 20 GW. Angka ini membuktikan ketersediaan sumber energi bersih yang melimpah dan siap untuk dikembangkan sebagai tulang punggung transisi energi.

Penyusunan peta jalan dekarbonisasi ini dinilai sebagai langkah fundamental agar target nol emisi pada tahun 2050 dapat tercapai secara terukur. Dokumen tersebut akan memuat analisis kondisi saat ini, proyeksi kebutuhan masa depan, potensi energi, serta berbagai skenario transisi yang disesuaikan dengan karakteristik sosial-ekonomi masyarakat NTT.

Gubernur Melki juga menyinggung keberhasilan Pulau Sumba sebagai percontohan energi bersih melalui program Sumba Iconic Island. Kombinasi pemanfaatan tenaga surya, mikrohidro, biomassa, dan angin di Sumba telah membuktikan bahwa wilayah kepulauan mampu menjadi teladan transisi energi di Indonesia.

“Pengelolaan potensi ini secara optimal akan membawa banyak keuntungan: memperluas akses listrik hingga ke pulau-pulau kecil, menarik investasi hijau, membuka lapangan kerja baru, serta memperkuat ketahanan energi wilayah,” tambahnya.

Sebagai penutup, Gubernur berharap dokumen peta jalan yang sedang disusun ini nantinya menjadi acuan kebijakan resmi pemerintah daerah, dasar untuk menarik investasi hijau, serta pendorong pembangunan yang tangguh, merata, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur. (Rocky)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *