PALU – Di balik hiruk-pikuk kesibukan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Undata Palu, ada sebuah sudut ketenangan yang menyuguhkan kehangatan berbeda setiap pagi. Tepatnya di Masjid Nurul AAFIAH, suasana ba’da shalat Subuh pada hari Rabu dan Jumat selalu memiliki cerita istimewa yang tak hanya menyejukkan hati, tetapi juga mengenyangkan perut.

Kehangatan ini dipimpin langsung oleh Imam Masjid, Muksin S Lahay, atau yang akrab disapa Abah Inam. Bersama sang marbot, Abbas, serta dibantu oleh Ahir dan Umair, Abah Inam tidak sekadar memimpin ibadah. Mereka menyulap momen selepas shalat menjadi ajang berbagi kasih. di atas karpet di dalam masjid disesaki dengan aroma kopi hangat, kue-kue ringan, dan nasi kuning kotak.
Uniknya, nasi kuning tersebut bukan hanya berasal dari inisiatif pengurus masjid, tetapi juga merupakan bentuk sedekah dari “hamba Allah” yang turut serta shalat berjamaah. Makanan-makanan ini kemudian dibagikan secara cuma-cuma kepada para jamaah, yang sebagian besar adalah keluarga pasien yang sedang menunggu atau menjaga kerabat mereka di RSUD Undata.
Seusai shalat, Abah Inam juga menyempatkan diri memberikan tausiah singkat nan menyejukkan. Kata-kata bijak itu seolah menjadi obat penenang di tengah kecemasan menunggu hasil pemeriksaan atau kondisi kesehatan orang terkasih.
Bagi banyak keluarga pasien, kehadiran sarapan gratis ini bukan sekadar soal makanan, melainkan bentuk empati yang meringankan beban ekonomi dan psikologis mereka.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Pak Ustadz Imam Masjid Undata bersama Marbot karena kami merasa terbantu mengenai sarapan pagi ini,” ucap salah satu keluarga pasien dengan nada haru, Jumat (27/7/2026).
Ia menambahkan, gestur kebaikan seperti ini sangat jarang ditemukan di tempat lain. “Hal ini sangat jarang didapatkan di masjid lain. Terima kasih kepada Pak Imam. Semoga Pak Imam bersama keluarga serta Marbotnya dilipatgandakan amalnya, diberikan kesehatan, serta limpahan rezeki oleh Allah SWT. Aamiin,” doanya, yang diamini oleh Sulpikar, seorang sopir ambulans RSUD Undata yang turut menyaksikan kehangatan tersebut.
Aksi sederhana namun bermakna mendalam ini membuktikan bahwa rumah sakit bukan hanya tempat penyembuhan fisik, tetapi Masjid Nurul AAFIAH di dalamnya telah berhasil menjadi tempat penyembuhan jiwa melalui nilai-nilai kekeluargaan dan kepedulian sosial yang tulus. (Jas)






