PALU – Kalimat spontan seorang alumni Universitas Tadulako atau Untad di hadapan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mencuri perhatian publik. Ia mengaku rela menggadaikan motor demi bisa bertemu langsung dengan Menteri Pertanian.
“Artinya Pak, mau digadai motor, mau digadai… yang penting ketemu Bapak Pertanian,” ujar alumni tersebut saat berdialog dengan Amran dalam rangkaian Dies Natalis ke-45 dan Wisuda Untad periode ke-138 di Palu, Kamis (20/8/2026).
Alumni itu menceritakan bahwa dirinya bersama sekitar 15 orang tengah merintis Brigade Pangan. Mereka menyewa lahan di wilayah Napu dan masih mengandalkan traktor sewaan karena keterbatasan dana.
Mendengar cerita itu, Mentan Amran Sulaiman langsung menyatakan dukungan. Ia menjanjikan bantuan satu unit combine harvester senilai sekitar Rp600 juta dan satu unit traktor roda empat sekitar Rp400 juta. Total nilai alat yang disebutkan mencapai sekitar Rp1 miliar.
Namun Amran menegaskan bantuan tersebut tetap melalui proses pengecekan terlebih dahulu. Ia meminta jajarannya memastikan kelompok, lokasi lahan yang dikelola, serta aktivitas pertanian sebelum alat diserahkan.
“Combine jangan diserahkan kalau tidak lihat timnya, lihat kerjanya,” tegas Amran.
Ia juga meminta agar kelompok tersebut mendapat pendampingan agar kegiatan pertanian yang dirintis dapat berjalan dan berkembang secara berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, Amran mendorong generasi muda Untad untuk berani menjadikan pertanian sebagai peluang usaha. Bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja.
Kisah ini menjadi sorotan karena berawal dari keterbatasan alat dan keberanian sekelompok alumni untuk merintis usaha pertanian di Napu. Kini tantangannya adalah membuktikan bahwa dukungan alat senilai Rp1 miliar tersebut dapat meningkatkan produktivitas dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat. ***






