Berita  

Gandeng GIZ & BP3MI, Universitas San Pedro Dorong Mahasiswa NTT Lihat Kerja Luar Negeri sebagai Jalur Strategis Atasi Pengangguran

KUPANG – Pandangan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya kalangan pemuda, terhadap bekerja di luar negeri mengalami pergeseran signifikan. Jika dahulu dianggap sebagai “jalan terakhir” atau pilihan darurat, kini bekerja di luar negeri mulai dipandang sebagai jalur cepat dan strategis untuk mengangkat kondisi ekonomi keluarga serta membuka wawasan global.Perubahan paradigma ini mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Peluang Kerja Luar Negeri dan Migrasi Aman yang berlangsung di Hotel Harper Kupang, Selasa (09/06/2026). Acara tersebut diinisiasi oleh lembaga kerjasama pembangunan Jerman, GIZ, bekerja sama dengan Universitas San Pedro Kupang dan BP3MI NTT.Ratusan mahasiswa dari Universitas San Pedro dan berbagai perguruan tinggi lain di Kota Kupang hadir meramaikan forum ini, bersama perwakilan GIZ, pimpinan kampus, dan pejabat BP3MI NTT.Bekak Kolimon, Ketua LPK San Pedro sekaligus Kepala Pusat Pengembangan dan Kerja Sama Universitas San Pedro, membuka diskusi dengan menyoroti urgensi persoalan pengangguran terdidik di NTT. Ia memaparkan data mengkhawatirkan yang dikumpulkan oleh kampusnya: jumlah sarjana yang belum bekerja di NTT mencapai sekitar 50.000 orang pada tahun 2025, dan angka tersebut melonjak drastis menjadi lebih dari 100.000 orang di tahun 2026.

“Setiap tahun kampus meluluskan ribuan mahasiswa. Tapi di sisi lain, kita juga sedang menambah jumlah pengangguran baru secara masif,” ujar Bekak di hadapan peserta sosialisasi.Menyikapi hal tersebut, Bekak mendorong para mahasiswa untuk memandang penempatan kerja di luar negeri bukan sebagai pilihan yang mengkhawatirkan, melainkan sebagai peluang strategis. Ia menyarankan agar anak muda tidak terpaku pada satu tujuan tunggal menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Bekak memberikan ilustrasi konkret: Jika seorang mahasiswa lulus kuliah pada usia 23 tahun, dan batas usia maksimal seleksi ASN adalah 35 tahun, maka terdapat jeda waktu hingga 12 tahun yang dapat dimanfaatkan secara produktif.

“Ambil pengalaman kerja di luar negeri selama 3 sampai 4 tahun. Kumpulkan modal finansial dan asah keterampilan (skill), lalu pulang untuk membuka usaha sendiri atau membangun karier di sektor swasta,” katanya memberi contoh.

Salah satu kendala terbesar yang diidentifikasi adalah pola pikir masyarakat NTT yang masih menganggap kesuksesan identik dengan menjadi pegawai negeri. Akibatnya, banyak anak muda menutup mata terhadap peluang karier di sektor swasta maupun internasional.

“Akibatnya banyak anak muda tidak pernah membayangkan karier di sektor swasta, apalagi bekerja di luar negeri,” jelas Bekak.

Ia juga menyinggung kondisi kemiskinan di NTT yang belum banyak bergeser. Oleh karena itu, generasi muda dituntut untuk lebih berani melihat realitas dan menyiapkan diri menghadapi peluang kerja yang tersedia, baik di dalam maupun luar negeri.

“NTT masih masuk kategori provinsi miskin. Kalau anak muda tidak mempersiapkan diri sejak sekarang dengan wawasan yang luas, kita akan terus berada di posisi yang sama,” tutup Bekak mengakhiri paparannya.

Melalui sosialisasi ini, diharapkan tercipta pemahaman bahwa migrasi kerja yang aman dan terencana dapat menjadi instrumen efektif dalam mengurangi pengangguran terdidik serta meningkatkan kesejahteraan keluarga di NTT. (Rocky)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *