WASINGTHON DC- Mantan Menteri Pertahanan AS sekaligus eks Direktur CIA, Leon Panetta, melempar kritik pedas terhadap Donald Trump. Setelah tiga minggu perang berkecamuk di Iran, Panetta menilai Trump terjebak tanpa strategi keluar yang jelas dan malah menunjukkan kelemahan Amerika di mata dunia.
Kritik ini muncul karena konflik yang dimulai sejak serangan mendadak Israel pada 28 Februari lalu itu tak kunjung usai. Meski pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dan digantikan putranya, Mojtaba Khamenei, kendali perang justru tampak makin lepas dari tangan AS.
“Dia cenderung naif tentang bagaimana sesuatu bisa terjadi. Jika dia mengatakannya dan terus mengatakannya, selalu ada harapan bahwa apa yang dia katakan akan menjadi kenyataan. Tapi itu yang dilakukan anak-anak. Bukan itu yang dilakukan presiden,” tutur Panetta dilansir The Guardian, Selasa (24/3/2026)
Panetta mengingatkan bahwa pejabat keamanan nasional sejak dulu sudah paham risiko Iran memblokir Selat Hormuz. Skenario horor itu kini terjadi dan memicu krisis energi global yang memukul balik ekonomi AS serta menjatuhkan elektabilitas Trump.
“Bukan hal yang sulit dipahami bahwa jika Anda akan berperang dengan Iran, salah satu kerentanan terbesar adalah Selat Hormuz, dan (itu) dapat menciptakan krisis minyak besar yang dapat mendorong harga bahan bakar melambung tinggi,” ucapnya.
Dampak kebijakan Trump ini mulai menjalar ke Asia. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr sudah memberi peringatan serius soal potensi lumpuhnya penerbangan nasional akibat krisis bahan bakar jet.
Penghentian operasional pesawat menjadi kemungkinan yang nyata,” ujar Ferdinand Marcos Jr melansir Bloomberg, Selasa (24/3/2026).
Marcos menjelaskan, sejumlah negara transit kini tidak mampu lagi menyediakan bahan bakar bagi maskapai Filipina. Kondisi ini memaksa pesawat membawa cadangan bahan bakar tambahan sejak keberangkatan, yang otomatis menambah beban operasional secara masif.
Krisis ini juga membuat Vietnam mulai mempertimbangkan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) per April 2026. Sementara itu, bandara-bandara besar di Dubai, Qatar, hingga Abu Dhabi dilaporkan sempat berhenti beroperasi, membuat puluhan ribu penumpang telantar di tengah kekacauan jadwal penerbangan global.
Sumber : inilah.com








