Puluhan Ribu Umat Padati Haul Ke-58 Pendiri Alkhairaat di Palu

PALU – Puluhan ribu masyarakat dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul untuk merayakan Haul Ke-58 Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, pendiri Perguruan Alkhairaat yang akrab disebut Guru Tua. Acara peringatan wafatnya berlangsung di Kompleks Perguruan Alkhairaat Kota Palu, Sulawesi Tenggara, pada hari Rabu (1 April 2026).

Baca Juga : 

Hari Ketiga Festival Raodhah Ramai Dipadati Pengunjung
Hari Kedua Festival Raudhah SIS Al-Jufri, Masyarakat Sangat Antusias Datang
Jelang Haul Guru Tua, Dua Kubu Panitia Sepakat Islah

Para pengikut Alkhairaat (Abnaulkhairaat) memenuhi setiap sudut lapangan seluas satu hektare di kompleks tersebut. Antusiasme yang tinggi membuat arus pengunjung juga memenuhi ruas Jalan Sis Aljufri yang berada di depan kantor Pengurus Besar (PB) Alkhairaat.

Perayaan tahunan ini yang jatuh pada tanggal 12 Syawal 1447 Hijriah mengangkat tema “Menguatkan jiwa teladan Guru Tua dalam kerangka peradaban ilmu pengetahuan dan akhlak mulia”. Sebelum acara puncak haul digelar, telah diselenggarakan Festival Raudhah SIS Aljufri selama tiga hari mulai tanggal 28 hingga 30 Maret 2026.

“Acara haul ini tidak hanya ditujukan bagi keluarga besar Alkhairaat, melainkan juga untuk seluruh alumni serta masyarakat yang mencintai lembaga ini,” ungkap Sekretaris Jenderal PB Alkhairaat Djamaludin Mariadjang.

Saat ini, jumlah pengikut Alkhairaat telah mencapai lebih dari sepuluh juta jiwa yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Di sektor pendidikan, lembaga ini mengelola satu institusi perguruan tinggi, sekitar lima puluh pondok pesantren, serta lebih dari seribu tujuh ratus madrasah di berbagai jenjang pendidikan.

Guru Tua lahir di wilayah Taris, Hadramaut, Yaman, pada tanggal 15 Maret 1892 dan meninggal dunia di Palu pada 22 Desember 1969. Beliau berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang ulama, dengan rantai keilmuan dan garis keturunan yang terhormat hingga mencapai Sayyidina Husain bin Fatimah Az-Zahra, cucu dari Rasulullah SAW.

Dengan menggunakan dana pribadi, beliau mendirikan lembaga pendidikan pertama di Palu pada tanggal 14 Muharram 1349 Hijriah atau tepatnya 11 Juni 1930. Nama “Alkhairaat” dipilih bukan tanpa makna, melainkan sebagai harapan agar kebaikan selalu mengalir melalui lembaga yang didirikannya.

Awalnya hanya berupa sebuah madrasah sederhana, namun seiring waktu Alkhairaat berkembang menjadi jaringan pendidikan yang luas. Dalam kurun waktu beberapa dekade, cabang-cabangnya telah menjangkau ratusan bahkan ribuan lokasi, tersebar di wilayah Sulawesi, Maluku, serta seluruh kawasan Indonesia Timur.

Laporan : Umair

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250