KUPANG– Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan bahwa kerja sama yang melibatkan berbagai elemen masyarakat dan institusi merupakan pijakan utama untuk mengangkat sektor pertanian, khususnya dalam mengembangkan komoditas jagung sebagai tulang punggung ketahanan pangan daerah dan nasional.
Baca Juga :
Gubernur NTT Tekankan Pentingnya SDM Unggul pada Sosialisasi PMB Undana 2026
Jual Anak Sendiri, Istri dilapor Suami Ke Pihak Berwajib
“Kerjasama yang terjalin harus terus diperluas dan diterapkan di berbagai daerah. Kolaborasi antara para petani, pemerintah daerah dan pusat, serta pihak swasta akan membawa perubahan nyata dalam meningkatkan hasil produksi dan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan saat ia menghadiri acara Panen Percontohan Proyek Percontohan Jagung dalam rangkaian program ekosistem jagung gotong royong yang digagas Tani Optima Group dengan tema “Mewujudkan NTT Sebagai Lumbung Jagung Nasional”, bertempat di Kelurahan Naibonat, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang.
Acara ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi atas keberhasilan program uji coba, tetapi juga sebagai bagian dari langkah nyata mendukung gerakan swasembada jagung di provinsi ini, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Turut menghiasi acara tersebut antara lain Wakil Kepala Kepolisian Daerah NTT Brigjen. Pol. Baskoro Tri Prabowo beserta rombongan, Direksi Bank NTT, pengurus Bio Cycle Group dan Tani Optima Group, Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kantor Wilayah NTT, Ketua HIPMI NTT, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Joaz Bily Oemboe Wanda, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kupang Amin Juariah, jajaran pemerintah daerah Kabupaten Kupang, para penyuluh pertanian, serta ratusan petani yang terlibat dalam program.
Direktur Tani Optima Group Ferdy Purnama menjelaskan bahwa program ekosistem jagung telah menjalani tahap pengujian selama lima hingga enam bulan di lima lokasi berbeda di NTT.
“Kami menerapkan model kerja yang telah terbukti efektif di Jawa, dan melengkapinya dengan sistem pengawasan yang terpadu menggunakan teknologi Strava dan IRV yang mampu menyajikan informasi secara langsung dalam pengelolaan jagung dari hulu hingga hilir,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa dampak program terlihat sangat mencolok, di mana produktivitas jagung meningkat menjadi 5 hingga 6 ton per hektare setelah penerapan model ekosistem tersebut.
Potensi pengembangan komoditas jagung di NTT sangat besar, kata Ferdy, didukung oleh kondisi tanah yang cocok, luas lahan kering mencapai sekitar 3,5 juta hektare, serta kemampuan untuk melakukan dua kali tanam dalam setahun.
Melihat capaian tersebut, Gubernur Melki menyatakan rasa kagumnya karena peningkatan hasil panen sangat signifikan, dari sebelumnya hanya sekitar 1,5 hingga 2 ton per hektare.
“Dengan semangat gotong royong seperti ini, kita pasti akan meraih hasil yang lebih optimal. Sinergi antar pihak akan menghasilkan pertumbuhan yang luar biasa dan harus menjadi standar kerja di masa depan,” tandasnya.
Ia juga menekankan pentingnya melakukan proses hilirisasi terhadap produk jagung agar memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani. Ia berharap jagung tidak hanya diperjualbelikan dalam bentuk mentah, tetapi juga diolah menjadi berbagai produk olahan, dengan dukungan pelatihan dan akses dana seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan melalui Bank NTT.
Selain itu, Gubernur mendorong agar model kerja sama ini dapat diterapkan di seluruh wilayah NTT untuk mengukuhkan posisi provinsi sebagai pusat produksi jagung utama di Indonesia.
Salah satu petani yang terlibat, Ornolus Kila Sadukh, mengaku merasakan manfaat nyata dari program ini bagi peningkatan hasil panen dan pendapatan keluarga.
“Dengan bimbingan yang intensif dari Tani Optima Group dan penerapan pola tanam yang lebih terstruktur, hasil panen kita bisa mencapai sekitar 5 hingga 6 ton per hektare,” katanya.
“Kini pendapatan kita juga meningkat, bisa mencapai sekitar Rp4 juta per bulan. Kami sangat berterima kasih atas adanya program ini,” tambahnya.
Namun demikian, ia mengharapkan dukungan pemerintah untuk mengatasi kendala ketersediaan air, terutama menjelang pelaksanaan musim tanam kedua (MT-2) nantinya.
Acara ditutup dengan penandatanganan Dokumen Kesepahaman (MoU) antara Tani Optima Group dan Bank NTT, serta penyerahan pembayaran hasil panen kepada Kelompok Tani Satu Hati.
Laporan : Rocky marsiano Taseseb
Sumber : Humas Propinsi NTT
Editor : MSR








