KISAH INSPIRATIF: Diejek Cacat hingga Jadi Polisi, Rendi Arif Buktikan Keterbatasan Bukan Penghalang

Bripda Rendi Arif Pratama,personel Sabhara Polda Sumatera Utara
Kisah Inspiratif 

DELISERDANG – Siapa sangka, pemuda yang dulu sering menjadi bahan ejekan karena kondisinya kini berdiri tegak berseragam kaki. Ia adalah Bripda Rendi Arif Pratama, salah satu personel Sabhara Polda Sumatera Utara yang juga menjadi bagian dari sejarah sebagai 16 anggota Polri pertama yang direkrut melalui jalur Rekrutmen Proaktif (Rekpro) kategori disabilitas.

Rendi resmi dilantik pada 18 Desember 2024 lalu di Sekolah Polisi Negara (SPN) Hinai, Langkat, bersama Angkatan 51 Resimen “Agung Adipurwa”. Langkahnya ini bukan hanya tentang menjadi abdi negara, melainkan bukti nyata bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti bermimpi.

Ikut Jejak Ayah, Putra Prajurit Ini Pilih Jadi Bhayangkara

Rendi lahir dan besar di Deli Serdang. Ia merupakan putra dari Serka Hendri Saputra, seorang prajurit TNI AD. Melihat pengabdian ayahnya, benih cinta kepada negara pun tumbuh di hati Rendi.

Rendi bersama Ayahnya yang juga merupakan Abdi Negara.

Awalnya, cita-cita Rendi ingin menjadi guru. Namun, segalanya berubah ketika ia melihat informasi pembukaan pendaftaran Bintara khusus penyandang disabilitas di media sosial.

“Saya awalnya scroll TikTok, lalu lihat ada kabar Polri buka jalur khusus disabilitas. Langsung saya bilang ke orang tua, dan mereka sangat mendukung. Kami cari info ke Polres Deli Serdang, dan alhamdulillah saya diterima,” cerita Rendi.

Dibekali fisik yang kuat karena latihan atletik dan kemampuan di bidang komputer, Rendi berhasil melewati semua tahapan seleksi dengan gemilang.

Dulu Diejek, Kini Jadi Kebanggaan

Perjalanan Rendi menuju seragam ini tidak mudah. Sejak kelas 3 SD, ia harus menerima kenyataan ketika teman-temannya mulai menyadari perbedaannya dan melontarkan kata-kata yang menyakitkan. Bahkan di kelas 6, ia sempat diejek satu kelas.

Namun, rasa sedih itu ia ubah menjadi api semangat.

“Dulu saya berpikir, apakah saya harus selalu sedih? Jawabannya tidak. Saya lihat teman-teman disabilitas lain bisa sukses, kenapa saya tidak? Saya yakinkan diri bahwa saya istimewa, bukan cacat,” ujarnya dengan tegas.

Kedua orang tuanya pun berperan besar dalam membentuk karakternya. Ibunya mendidiknya agar mandiri dengan cara yang unik, bahkan pernah menguncinya di kamar sampai ia bisa memakai baju sendiri tanpa bantuan.

Orang Tua Bripda Rendi

“Saya ketuk pintu bilang sudah bisa pakai baju, Ibu langsung menangis haru. Itu mengajarkan saya untuk tidak bergantung pada orang lain,” tambahnya.

Atlet Berprestasi yang Tak Kenal Menyerah

Sebelum mengenakan seragam Polri, Rendi adalah atlet paralimpik berprestasi yang mengharumkan nama Sumatera Utara. Deretan medali sudah ia kantongi, antara lain:

– 🥇 Juara 1 Lempar Lembing Peparprov-II Sumut.
– 🥉 Juara 3 Sprint 100 Meter Peparpenas X Tahun 2023.
– 🥈 Juara 2 Lempar Cakram & Tolak Peluru Peparprov-II Sumut.

Prestasi ini membuktikan bahwa meski memiliki keterbatasan, kemampuannya justru melebihi orang biasa.

Di Polri, Saya Diperlukan dan Setara

Saat pertama kali masuk pendidikan di SPN, Rendi mengaku sempat kaget dengan kedisiplinan yang ketat dan serba cepat. Namun, justru di situlah ia tumbuh menjadi pribadi yang lebih berani, tegas, dan rapi.

Yang paling membahagiakan, Rendi merasa diterima sepenuhnya.

“Di sini rasanya sama rata. Rekan-rekan dan pengasuh memperlakukan saya sama seperti yang lain. Tidak ada bedanya. Saya merasa setara dan berguna,” ungkapnya penuh syukur.

Kini, dengan pangkat Brigadir Polisi Dua (Bripda), Rendi Arif Pratama menjadi inspirasi bagi ribuan pemuda di Indonesia. Bahwa mimpi tidak melihat bentuk fisik, melainkan melihat seberapa besar tekad dan semangat di dalam hati.

“Sekali Bhayangkara, Tetap Bhayangkara!”

 

Sumber  : SSDM Polri

Editor     : MSR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250