Gubernur Melki: Politik Tanpa Filsafat Bisa Kehilangan Arah

MAUMERE – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa praktik politik tanpa landasan filsafat berisiko kehilangan arah dan tujuan. Hal ini disampaikannya saat menghadiri Rapat Senat Terbuka Luar Biasa pengukuhan Prof. Dr. Otto Gusti Ndagong Madung sebagai Guru Besar Filsafat Politik di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Kabupaten Sikka, Sabtu (18/4/2026).

Dalam sambutannya, Gubernur Melki menekankan bahwa filsafat politik berfungsi sebagai kompas yang mengarahkan kebijakan agar tidak melenceng dari nilai keadilan.

“Tanpa filsafat politik yang dipakai, seluruh kegiatan politik kita hari ini bisa kehilangan arah, karena kompasnya ada di sana,” ujarnya.

Ia mengakui sering terjadi kesenjangan antara gagasan ideal dengan realitas di lapangan. Pemerintah pun kadang terjebak pada pragmatisme, yang penting jalan, namun lupa pada visi besar.

“Keadilan sosial tidak cukup tampil dalam pidato atau desain sistem politik. Dia harus hadir dalam praktik yang nyata di tengah masyarakat,” tegasnya.

Oleh karena itu, ia mendorong akademisi dan kampus untuk terus memberikan kritik dan arah pemikiran agar kebijakan tetap relevan dan berpihak pada rakyat.

Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, menyebut pengukuhan ini sebagai prestasi luar biasa.

Dari sekitar 3.000 dosen aktif di NTT, jumlah profesor di perguruan tinggi swasta masih di bawah 1%, padahal standar ideal seharusnya mencapai 10% atau sekitar 300 orang.

“Ahli filsafat politik yang lengkap secara akademik tidak banyak, bahkan di dunia. Ini capaian besar bagi NTT dan Indonesia,” ungkapnya.

Adrianus juga menegaskan bahwa jabatan profesor bukan sekadar gelar, tapi amanah untuk menghasilkan riset berdampak dan menjadi teladan integritas.

Wakil Rektor IFTK Ledalero, Dr. Yohanes Hans Monteiro, menambahkan bahwa capaian Prof. Otto adalah hasil kerja keras, disiplin, dan konsistensi dalam meneliti serta mempublikasikan karya ilmiah.

“Menjadi profesor tidak mudah. Harus setia mengajar, aktif meneliti, dan produktif menulis di jurnal bereputasi,” katanya.

Diharapkan pengukuhan ini menjadi motivasi bagi dosen lain untuk terus meningkatkan kualitas diri demi kemajuan pendidikan di NTT.

Laporan : Rocky marsiano Taseseb
Sumber : Biro Administrasi Pimpinan Setda Prop.NTT
Editor    : MSR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250