SIGI – Sudah 46 tahun Abd. Basir Sawal atau akrab disapa “Opa Basir” mengabdikan diri menolong sesama di Sulawesi Tengah. Warga Desa Bomba, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi ini dikenal memiliki keahlian unik mendeteksi gangguan yang diderita seseorang, baik secara medis maupun non medis.
Opa Basir menginjakkan kaki di Sulawesi Tengah sejak 1979. Ia awalnya diangkat sebagai PNS di Dinas P&K Provinsi Sulawesi Tengah. Selanjutnya dimutasi ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga. Setelah Kabupaten Sigi dimekarkan dari Kabupaten Donggala, ia kemudian bertugas di Dinas Pendidikan Kabupaten Sigi hingga pensiun.
Keahlian yang ia miliki diturunkan secara turun-temurun. Dengan media sederhana berupa sepotong bambu atau pipa, Opa Basir dapat “membaca” sumber keluhan pasien.
“Bambu ini jadi petunjuk. Dari sini saya bisa tahu apakah penyakitnya medis atau non medis,” ujarnya di kediamannya di Desa Bomba kepada wartawan _harian indonesia pos.com.Rabu (19/8/2026).
Jika hasil deteksi mengarah ke penyakit medis, ia akan mengarahkan pasien berobat ke dokter, puskesmas, atau rumah sakit. Sementara untuk gangguan non medis, ia menyarankan pengobatan tradisional.
Untuk pengobatan, Opa Basir meracik obat dari tanaman _kariango_ yang mudah ditemukan di kampung. Tanaman herbal itu diberikan untuk dikonsumsi setiap hari.
Selain mengobati penyakit, Opa Basir juga sering dimintai tolong terkait persoalan jodoh. Menurutnya, pasien yang datang cukup dimandikan satu kali. Paling lama dua bulan, orang yang dimaksud akan dipertemukan jodohnya.
Selama puluhan tahun, jumlah orang yang ia tolong sudah tidak terhitung. Pasiennya datang dari berbagai kalangan, mulai masyarakat umum, anggota TNI/Polri, hingga warga mancanegara seperti dari Belanda yang datang khusus untuk berobat.
Salah satu pasien asal Palu, Masdar, mengaku tertolong setelah berobat ke Opa Basir. Ia yang sebelumnya mengidap penyakit lambung dan tidak bisa minum kopi, kini sudah bisa menikmati kopi lagi.
“Saya selama ini mengidap penyakit lambung, sama sekali tidak bisa minum kopi dan baru kali ini saya berani minum kopi dan alhamdulillah tidak ada pengaruhnya lagi di lambung saya,” ujar Masdar dengan terharu.
Kini di usia senja, Opa Basir tetap membuka pintu rumahnya bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Baginya, membantu sesama adalah bentuk pengabdian yang terus ia jalani sejak puluhan tahun lalu. (Jas)






