KATINGAN – Penyidik Bareskrim Polri terus mengungkap peran masing-masing tersangka dalam kasus penyerangan brutal yang menewaskan tiga anggota Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Katingan di Desa Tumbang Kalemei, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Salah satu nama yang kini menjadi sorotan utama adalah Dea Nabila alias Dea, yang diketahui merupakan anak dari pasangan pejabat lokal terpandang di wilayah tersebut.
Dea Nabila dipastikan masuk dalam daftar sembilan tersangka yang telah diamankan aparat. Sebelumnya, namanya sempat muncul dalam pemeriksaan terhadap lingkaran terdekat para pelaku, namun kini statusnya telah dinaikkan menjadi tersangka.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol Eko Hadi Santoso, mengungkapkan bahwa Dea diduga memiliki peran aktif dalam aksi kekerasan tersebut. Menurut hasil penyelidikan, Dea bersama tersangka lain bernama Isnan Melani Pebriansyah alias Roby, terlibat dalam membawa senjata api rakitan dan memprovokasi warga saat terjadi bentrokan dengan petugas.
“Dea Nabila alias Dea dan Isnan Melani Pebriansyah alias Roby membawa senjata api rakitan serta memprovokasi warga,” kata Eko dalam keterangan tertulisnya, Kamis (16/7/2026).
Hingga saat ini, Dea menjadi satu-satunya tersangka perempuan dalam rangkaian tragedi penggerebekan bandar narkoba yang mengakibatkan gugurnya tiga personel Satresnarkoba Polres Katingan tersebut.
Sosok Dea menarik perhatian publik karena latar belakang keluarganya. Ia disebut-sebut sebagai anak dari seorang anggota DPRD Kabupaten Katingan (berinisial G) dan Kepala Desa (Kades) Tumbang Marak (berinisial AS). Informasi ini dibenarkan oleh sebagian warga setempat yang mengetahui identitas keluarga tersebut.
Salah seorang warga Desa Tumbang Marak yang meminta tidak disebutkan namanya membenarkan kabar tersebut. “Benar, Dea anak anggota dewan dan Ibu Kades. Dea ini juga sudah lama diketahui menjadi pengedar narkoba,” ujarnya kepada awak media.
Kasus ini semakin memperkuat dugaan adanya keterlibatan oknum-oknum tertentu dalam jaringan narkoba di wilayah Katingan, bahkan melibatkan kalangan yang selama ini dianggap memiliki integritas di masyarakat. Penyidik Bareskrim Polri masih terus mendalami seluruh jaringan dan motif di balik serangan mematikan terhadap aparat penegak hukum tersebut. (*)





