KUPANG – BP3MI Nusa Tenggara Timur bekerja sama dengan organisasi kerjasama internasional Jerman, GIZ, menyelenggarakan Workshop Peluang Penempatan Pekerja Migran Indonesia melalui Skema FEG dan Ausbildung Jerman. Kegiatan ini digelar di Hotel Harper Kupang, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Senin (8/6), sebagai upaya memperluas akses masyarakat NTT terhadap pendidikan vokasi dan pekerjaan formal di Jerman dengan jalur yang aman, legal, dan prosedural.
Acara ini secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kehadiran dalam kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain perwakilan pemerintah daerah, perguruan tinggi, Bursa Kerja Khusus (BKK) SMK se-Kota Kupang, lembaga pelatihan kerja, perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia (P3MI), PD Flobamor, serta pihak-pihak lain yang bergerak di bidang pengembangan sumber daya manusia. Peserta yang hadir berasal dari wilayah Kota Kupang dan sekitarnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan jumlah peserta yang memadai dan mewakili berbagai sektor terkait pengembangan tenaga kerja.
Dalam suasana yang penuh antusias dan interaktif, peserta mendapatkan pemahaman mendalam mengenai dua skema utama penempatan ke Jerman. Pertama, skema Fachkräfteeinwanderungsgesetz (FEG) atau Undang-Undang Imigrasi Tenaga Kerja Terampil Jerman, yang membuka peluang luas bagi tenaga kerja asing yang memiliki kompetensi dan kualifikasi sesuai kebutuhan pasar kerja Jerman. Kedua, program Ausbildung, yaitu pendidikan dan pelatihan vokasi yang menggabungkan pembelajaran teori di sekolah dengan praktik kerja langsung di perusahaan, sehingga peserta mendapatkan keterampilan sekaligus pengalaman kerja yang diakui secara internasional.
Kepala BP3MI Nusa Tenggara Timur, Suratmi Hamida, dalam sambutannya menegaskan pentingnya peningkatan kualitas pekerja migran asal NTT. Menurutnya, potensi sumber daya manusia di wilayah ini sangat besar, namun perlu didorong agar mampu bersaing di sektor pekerjaan formal yang membutuhkan keahlian khusus.
“PMI asal NTT harus naik kelas. Ke depan, kita ingin semakin banyak masyarakat NTT bekerja pada sektor formal yang menawarkan perlindungan yang lebih baik, jenjang karier yang jelas, dan penghasilan yang lebih kompetitif. NTT tidak boleh hanya dikenal sebagai daerah pengirim pekerja migran pada sektor domestik, tetapi juga sebagai daerah penghasil tenaga kerja profesional yang mampu bersaing di pasar kerja internasional, khususnya di Jerman,” tegas Suratmi.
Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan penempatan pekerja migran formal tidak bisa dilakukan sendirian. Diperlukan kerjasama erat antara pemerintah, lembaga pendidikan, lembaga pelatihan, dunia usaha, dan mitra internasional untuk menyiapkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi, sertifikasi, dan kemampuan bahasa asing yang sesuai standar global.
Melalui workshop ini, BP3MI NTT berharap generasi muda NTT semakin paham akan peluang di Jerman dan tergerak untuk mempersiapkan diri lebih matang. Kegiatan ini juga menjadi langkah nyata untuk meningkatkan jumlah penempatan pekerja migran asal NTT ke Jerman dan negara Eropa lainnya, dengan tetap menjaga prinsip keamanan, legalitas, dan kehormatan. (Rocky)






