Antisipasi Bahaya, Buaya Dibawa ke Desa Babana untuk Ditangani Lebih Lanjut
MAMUJU TENGAH– Seekor buaya berukuran sekitar 2,7 meter berhasil ditangkap oleh seorang pemuda bersama warga setempat di Desa Kabubu, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, pada Minggu (24/05/2026) sekitar pukul 11.00 WITA. Penangkapan dilakukan setelah hewan tersebut meresahkan masyarakat akibat sering terlihat berkeliaran di dekat permukiman dan aliran sungai.
Menurut keterangan dari Kepala Desa Kabubu, buaya tersebut pertama kali dilaporkan muncul sejak beberapa hari sebelumnya, membuat warga takut beraktivitas di sekitar sungai, terutama anak-anak dan petani yang biasa bekerja di ladang tepi air. Kekhawatiran semakin meningkat ketika buaya sempat terlihat mendekati area rumah warga.
“Kami tidak bisa diam saja. Dengan koordinasi antara tokoh masyarakat, pemuda desa, dan aparat keamanan lokal, kami memutuskan untuk menangkapnya sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan,” ujar salah satu warga yang terlibat dalam penangkapan.
Proses penangkapan dilakukan secara hati-hati menggunakan alat sederhana seperti jaring besar dan tongkat panjang, dengan bantuan pengetahuan lokal tentang perilaku buaya. Setelah berhasil dilumpuhkan sementara, buaya langsung diamankan di lokasi aman sambil menunggu tim evakuasi.
Tak lama kemudian, tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mamuju Tengah tiba di lokasi untuk mengambil alih penanganan. Buaya tersebut kemudian dievakuasi menggunakan kendaraan khusus menuju lokasi penangkaran satwa liar di Desa Babana, Kecamatan Budong-budong, yang telah disiapkan sebagai tempat sementara bagi hewan-hewan hasil tangkapan dari wilayah rawan konflik manusia-satwa.
Kepala BPBD Mamuju Tengah, Ir. H. Andi Rahman, S.T., M.Si., menjelaskan bahwa evakuasi ini merupakan bagian dari upaya preventif guna menjaga keselamatan masyarakat sekaligus melestarikan ekosistem alam.
“Buaya adalah bagian dari rantai makanan alami di wilayah kita. Namun, ketika mereka masuk ke zona permukiman, risiko konflik sangat tinggi. Maka, evakuasi ke penangkaran adalah solusi terbaik saat ini. Kami juga akan melakukan sosialisasi kepada warga agar tidak memancing atau mengganggu habitat buaya di sungai.”
Sementara itu, pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Barat menyatakan akan memantau kondisi buaya di penangkaran dan mempertimbangkan langkah selanjutnya, apakah akan dilepasliarkan kembali ke habitat alami yang lebih jauh dari permukiman, atau dipindahkan ke pusat konservasi jika diperlukan.
Warga Desa Kabubu menyambut baik tindakan cepat ini. Mereka berharap kejadian serupa tidak terulang, serta meminta adanya patroli rutin dan pemasangan rambu peringatan di sepanjang bantaran sungai. (*)






