KUPANG (NTT) – Pemerintah Kota Kupang menaruh harapan besar kepada Pengurus Hari-Hari Besar Islam (PHBI) Kota Kupang periode 2025–2030 agar berperan sebagai “jembatan emas” penghubung antarumat beragama, sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga kerukunan sosial dan memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kota Kupang, Hengky C. Malelak, saat membuka Rapat Kerja Daerah PHBI Kota Kupang yang berlangsung di Aula DPD RI Perwakilan NTT, Sabtu (9/5/2026).
“Harapan pemerintah, PHBI menjadi jembatan emas hubungan umat Muslim dengan semua umat beragama yang ada di Kota Kupang dan juga Pemerintah Kota Kupang, sehingga visi membangun rumah bersama benar-benar terwujud,” tegas Hengky.
Ia menekankan rapat kerja ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan forum strategis untuk merancang program keumatan serta mempererat kerja sama dengan pemerintah. Hengky memberikan apresiasi tinggi atas dua kegiatan besar PHBI pasca-pelantikan, yakni penyelenggaraan malam takbir Idulfitri dan partisipasi aktif dalam Pawai Paskah, yang dinilai berdampak positif bagi keharmonisan sosial maupun perekonomian warga.
“Melalui momentum malam takbir dan kegiatan Paskah, kita menunjukkan bahwa kota ini adalah kota kasih. Ada harmoni yang tercipta di situ, UMKM bertumbuh, ada pertumbuhan ekonomi di situ,” ujar Hengky, seraya mencontohkan momen pemuda gereja menyambut pawai takbir di depan gereja dan keikutsertaan umat Islam dalam Pawai Paskah sebagai bukti nyata harmoni dalam keberagaman.
Selain menjaga kerukunan, Hengky juga menitipkan tugas penting bagi PHBI untuk membantu pemerintah menangani persoalan HIV/AIDS yang mengkhawatirkan. Data dari Pemkot dan KPA mencatat terdapat lebih dari 2.500 kasus di Kota Kupang, yang mayoritas menimpa kelompok usia muda. Oleh karena itu, PHBI diminta aktif melakukan edukasi lewat mimbar masjid dan kegiatan keagamaan.
“Melalui mimbar masjid dan kegiatan-kegiatan keagamaan, tolong anak-anak muda diingatkan supaya tidak jatuh dalam pergaulan yang salah,” pesannya.
Sementara itu, Ketua Umum PHBI Kota Kupang periode 2025–2030, Bustaman, menegaskan komitmen organisasi dalam merawat persaudaraan. Menurutnya, umat Islam di Kupang bukanlah kelompok minoritas semata, melainkan bagian penting dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab besar menjaga kedamaian.
“Kita berharap bahwa apa yang selalu Bapak Wali Kota sampaikan, membangun harmoni di dalam masyarakat, itu adalah cita-cita kita bersama juga,” kata Bustaman. Ia menambahkan kegiatan seperti Kupang Bertakbir dan partisipasi dalam Pawai Paskah membuktikan kegiatan religius bisa dikemas dengan semangat budaya dan toleransi yang tinggi.
Bustaman juga menjelaskan kepengurusan PHBI sengaja merangkul berbagai ormas Islam, organisasi kepemudaan, dan paguyuban agar menjadi kekuatan kolektif umat. “PHBI harus hadir sebagai representasi umat sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam kegiatan-kegiatan keumatan,” ujarnya.
Ketua Dewan Pembina PHBI Kota Kupang, Jous Ambo, mengapresiasi kepengurusan baru yang banyak diisi oleh anak muda. Ia menilai penyelenggaraan pawai takbir kini jauh lebih tertata dan mendapatkan respons positif dari masyarakat luas.
“Saya berharap PHBI terus dipimpin oleh orang-orang muda. Ke depan pasti akan lebih baik,” katanya.
Jous juga mendorong setiap kegiatan PHBI harus memberikan dampak ekonomi nyata dengan melibatkan pelaku UMKM. “Kalau kita menghadirkan ribuan orang, satu malam itu bisa berputar uang puluhan juta sampai ratusan juta. Karena itu PHBI harus punya misi ke sana,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Jous mengingatkan seluruh pengurus untuk mengelola organisasi dengan keikhlasan. “Kalau kita sudah niat bersedekah waktu untuk organisasi, maka jalani dengan ikhlas. Insyaallah berkah,” tutupnya. (Rocky)







