JAKARTA – Rincian anggaran pengadaan barang dan jasa Badan Gizi Nasional (BGN) tahun 2025 senilai Rp6,31 triliun kembali menjadi sorotan publik. Pasalnya, dalam daftar belanja tersebut terdapat item-item yang dinilai tidak relevan dengan tujuan utama program Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dari perangkat tablet hingga perlengkapan sandang seperti semir sepatu yang nilainya mencapai miliaran rupiah.
Dalam anggaran tersebut, tercatat alokasi untuk pengadaan tablet mencapai Rp508,49 miliar. Perangkat yang direncanakan dibeli adalah tipe Samsung Galaxy Tab Active 5 dengan harga di e-katalog sekitar Rp17,9 juta per unit, padahal harga pasarannya hanya berkisar Rp8 hingga Rp12 juta. Selain itu, ada pos belanja semir dan sikat sepatu senilai Rp1,5 miliar dengan harga satuan mencapai Rp54-55 ribu, jauh di atas harga pasar normal yang hanya Rp25-35 ribu.
Belanja perlengkapan lainnya juga mencuri perhatian, mulai dari kaos dalam senilai Rp4,5 miliar, ikat pinggang Rp5 miliar, handuk Rp3,7 miliar, hingga kaos kaki senilai Rp6,9 miliar dengan estimasi harga satuan mencapai Rp100 ribu. Secara keseluruhan, komponen belanja sandang dan perlengkapan mencapai Rp622 miliar, angka yang justru lebih besar dibanding anggaran untuk pelatihan UMKM dan penjamah makanan.
Kritik Tajam dari Pengamat
Manajer Manajemen Pengetahuan dan Komunikasi Seknas Fitra, Betta Anugrah Setiani, menilai praktik tersebut menunjukkan adanya potensi inefisiensi, bahkan membuka ruang penyimpangan.
“Pengadaan barang dan jasa seharusnya mengacu pada standar biaya yang rasional dan berbasis harga pasar,” ujarnya pada Selasa (14/4).
Penemuan harga yang jauh lebih tinggi, kata dia, mengindikasikan lemahnya perencanaan anggaran dan tidak optimalnya proses survei pasar.
Apa Kaitannya dengan Pemenuhan Gizi?
Hingga saat ini, masih menjadi pertanyaan besar bagaimana barang-barang tersebut berkaitan langsung dengan penyediaan makanan bergizi bagi masyarakat. Indonesia Corruption Watch (ICW) bahkan menilai terdapat indikasi penggelembungan harga dan pemecahan paket yang berpotensi melanggar aturan pengadaan. Publik mempertanyakan efektivitas anggaran yang seharusnya difokuskan untuk kualitas bahan makanan, justru banyak tersedot ke kebutuhan operasional dan perlengkapan yang dinilai berlebihan.
Penjelasan Pihak BGN
Terpisah, pihak BGN telah memberikan klarifikasi terkait alokasi dana secara umum. Kepala BGN Dadan Hindayana menyatakan bahwa dari total anggaran yang dikelola sebesar Rp268 triliun untuk tahun 2026, sebanyak 95,4% dialokasikan khusus untuk program pemenuhan gizi nasional, termasuk MBG senilai Rp248 triliun.
Dadan juga menjelaskan bahwa sekitar 70% anggaran digunakan untuk membeli bahan baku makanan yang menyerap produk petani, peternak, dan UMKM, sedangkan sisanya untuk operasional, gaji relawan, dan kebutuhan pendukung lainnya.
Namun, rincian belanja miliaran rupiah untuk tablet, semir sepatu, hingga kaos kaki ini tetap menjadi sorotan tajam dan memicu pertanyaan tentang prioritas penggunaan anggaran negara.(*red)
Editor : MSR








