JAKARTA – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, menghadiri pembukaan pameran bertajuk “Weaving Wonders: Dari Benang Tenun dan Lahan Semai Menuju Kekuatan Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Pemberdayaan Perempuan di Nusa Tenggara Timur”. Acara yang berlangsung di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta, pada Sabtu (13/6/2026) ini diselenggarakan oleh Yayasan Bambu Lingkungan Lestari bersama Uma Nusantara.
Pameran ini bertujuan menyoroti peran vital perempuan NTT sebagai penggerak utama ekonomi melalui tiga pilar utama: kerajinan tenun, pengembangan pangan lokal, serta usaha berbasis komunitas. Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan, Ketua TP PKK NTT Mindriyati Astiningsih Laka Lena, serta Pendiri Yayasan Uma Nusantara, Yori Antar.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki menegaskan bahwa kain tenun NTT memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar produk kerajinan atau komoditas ekonomi. Bagi masyarakat NTT, tenun adalah cerminan ketekunan, filosofi hidup, dan kekayaan intelektual yang telah dijaga turun-temurun oleh para perempuan.
“Di balik selembar kain tenun NTT ada cerita tentang ketekunan, perjuangan, dan harapan. Ada tangan-tangan perempuan yang sejak pagi membantu suami di kebun, mengurus keluarga, lalu kembali duduk menenun hingga malam,” ujar Gubernur Melki dengan penuh apresiasi. Ia menekankan pentingnya melestarikan warisan budaya ini agar tetap menjadi simbol identitas dan sumber kesejahteraan bagi generasi mendatang.
Sementara itu, Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan, menyoroti data Survei GoodStats 2024 yang menunjukkan kontribusi signifikan perempuan NTT terhadap perekonomian. Data mencatat bahwa perempuan di NTT berkontribusi sebesar 42,4% terhadap pendapatan rumah tangga, angka yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di kisaran 36,1%.
“Ketika perempuan berdaya, ekonomi lokal tumbuh dan kesejahteraan masyarakat ikut terangkat,” kata Veronica. Ia juga menghubungkan pemberdayaan ekonomi perempuan dengan penurunan isu sosial seperti kekerasan, pekerja anak, perkawinan dini, dan stunting. Program seperti Kebun Pangan Perempuan dan agroforestri bambu “Mama Bambu” disebutnya sebagai pintu masuk strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus sosial di NTT.
Pendiri Yayasan Uma Nusantara, Yori Antar, menjelaskan bahwa pameran ini dirancang sebagai ruang dialog yang mempertemukan pembuat kebijakan, akademisi, praktisi, dan masyarakat adat. Tujuannya adalah membangun kemitraan yang kuat demi menciptakan ekonomi yang lebih tangguh dan inklusif.
Senada dengan hal tersebut, Ketua TP PKK NTT, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, mengingatkan bahwa sebagian besar pengrajin tenun adalah ibu-ibu yang memikul beban ganda. Oleh karena itu, mereka membutuhkan dukungan konkret berupa pelatihan keterampilan, akses pemasaran yang lebih luas, serta pendampingan usaha agar tenun tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga sumber penghasilan yang berkelanjutan.
Langkah positif pemerintah juga terlihat pada Mei 2026 lalu, ketika enam kelompok tani hutan perempuan di NTT menerima Surat Keputusan (SK) Perhutanan Sosial untuk mengelola lahan seluas 648 hektare. Melalui pameran Weaving Wonders, pesan kuat tersampaikan bahwa budaya, kearifan lokal, dan pemberdayaan perempuan merupakan aset tak ternilai bagi pembangunan Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan. (Rocky)






