JAKARTA – Piala Dunia 2026 diproyeksikan akan mencatat sejarah baru dalam industri olahraga dengan total pendapatan mencapai US$13 miliar atau sekitar Rp233 triliun. Turnamen akbar ini akan berlangsung pada 8 Juni hingga 19 Juli 2026 di tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Untuk pertama kalinya, Piala Dunia menggunakan format baru dengan 48 tim nasional. Jumlah pertandingan pun meningkat signifikan menjadi 104 laga.
“Piala Dunia 2026 adalah yang terbesar dalam sejarah, baik dari segi jumlah tim maupun keuntungan finansial. Kami memperkirakan pendapatan mencapai 13 miliar dolar AS, sebuah rekor baru bagi FIFA,” kata Gianni Infantino, Presiden FIFA.
Peningkatan jumlah peserta secara otomatis memperluas pasar hak siar dan kontrak sponsor global di berbagai benua. Fox Sports dilaporkan telah membayar US$485 juta untuk hak siar di wilayah Amerika Serikat demi mengamankan tayangan eksklusif. Perpanjangan durasi turnamen juga membuka ruang iklan lebih luas bagi para mitra komersial. Sektor iklan tambahan seperti jeda hidrasi diprediksi menyumbang pendapatan ekstra sebesar Rp3,6 triliun hanya pada fase grup saja.
Selain pendapatan siaran, industri taruhan global juga diperkirakan ikut terdongkrak. Perputaran uang dari sektor taruhan diproyeksikan mencapai US$50 miliar selama turnamen. Setiap pertandingan rata-rata akan menghasilkan nilai taruhan hingga US$500 juta dari para penggemar di seluruh dunia.
“Format 48 tim membuka peluang lebih besar bagi sponsor dan penyiaran. Ini bukan hanya pesta sepak bola, tapi juga mesin ekonomi global,” kata Alejandro Dominguez, Presiden CONMEBOL.
FIFA juga mengalokasikan dana kompensasi sebesar US$355 juta bagi klub-klub yang melepas pemainnya ke turnamen. Sementara itu, tim juara akan membawa pulang hadiah uang tunai sebesar US$50 juta.
“Kompensasi klub dari FIFA sebesar 355 juta dolar AS adalah bentuk keadilan. Klub yang melepas pemain ke Piala Dunia harus mendapat imbalan finansial,” kata Richard Masters, CEO Premier League.
Dampak ekonomi global juga dirasakan hingga Indonesia. Potensi perputaran uang dari berbagai sektor jasa di Indonesia diperkirakan mencapai Rp5,03 triliun.
Meski Keuntungan Piala Dunia 2026 sangat besar, penyelenggaraan ini tetap menuai kritik terkait tingginya biaya operasional di kota tuan rumah dan harga tiket yang mahal bagi suporter.
Turnamen kali ini dipastikan menjadi barometer baru dalam tata kelola bisnis olahraga internasional di masa depan. (*)






