JAKARTA – Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Berly Martawardaya, memberikan peringatan keras terkait kondisi ekonomi ke depan. Dalam analisisnya yang dirilis pada Jumat, 17 April 2026, ia menilai ancaman resesi global sudah di depan mata dan berpotensi memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di Indonesia.
Berly memprediksi, dalam rentang waktu hingga tahun 2027 mendatang, diperkirakan sekitar 250.000 orang berisiko kehilangan pekerjaan akibat perlambatan ekonomi yang terjadi saat ini.
Menurut Berly Martawardaya, ancaman resesi ini dipicu oleh sejumlah faktor krusial, antara lain:
1. Perlambatan Ekonomi Global
Pertumbuhan ekonomi dunia melambat akibat ketegangan geopolitik, perang dagang, dan ketidakpastian pasar keuangan internasional yang berdampak langsung pada investasi dan ekspor-impor.
2. Penurunan Daya Beli Masyarakat
Inflasi dan kenaikan harga kebutuhan dasar membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang. Akibatnya, permintaan terhadap barang dan jasa menurun, sehingga omzet perusahaan ikut terdampak.
3. Efisiensi Perusahaan
Di tengah pendapatan yang menurun, banyak perusahaan terpaksa melakukan langkah efisiensi biaya operasional secara besar-besaran. Salah satu langkah yang sering diambil adalah melakukan pemangkasan jumlah tenaga kerja agar perusahaan tetap bisa bertahan (going concern).
Dampak dari ancaman resesi ini diprediksi akan dirasai di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, properti, perdagangan, hingga sektor jasa. Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat, lonjakan angka pengangguran bisa menjadi masalah serius yang memicu ketidakstabilan sosial ekonomi.
Situasi ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah, pelaku usaha, maupun pekerja untuk lebih waspada dan menyiapkan strategi agar dampak buruknya bisa diminimalisir.(*red)
Editor : MSR








